Islamic & Indigenous Psychology for Global Challenges
Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
23–24 September 2025

[Repost] Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan The 3rd International Conference of Islamic and Indigenous Psychology (ICIIP) dengan mengusung tema “Islamic & Indigenous Psychology for Global Challenges”. Konferensi yang dilaksanakan pada 23–24 September 2025 ini menjadi wadah akademik bagi para psikolog, peneliti, mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum yang memiliki perhatian pada pengembangan psikologi berbasis nilai-nilai Islam dan kearifan lokal. Melalui forum ilmiah ini, UMS menegaskan komitmennya untuk memperkuat kontribusi keilmuan psikologi yang tidak hanya relevan dengan tantangan global, tetapi juga berakar pada budaya dan spiritualitas masyarakat.
Sebagai rangkaian pembuka, konferensi ini diawali dengan workshop pra-konferensi pada 23 September 2025. Kegiatan workshop ini terbuka bagi mahasiswa profesi, dosen, peneliti, psikolog, dan praktisi yang tertarik pada pengembangan psikologi Islam dan indigenous. Workshop dilaksanakan secara luring di Fakultas Psikologi UMS dengan menghadirkan dua fasilitator berpengalaman. Dr. Nanik Prihartanti, M.Si., Psikolog dari UMS memandu workshop Mawas Diri: Journey to Self Transformation, sementara Dr. Bagus Riyono, M.A., Psikolog dari International Association of Muslim Psychologists (IAMP) memfasilitasi workshop Tazkiya Therapy: Theoretical Foundations and Practice of Tazkiya Therapy. Kedua workshop tersebut dirancang dalam kegiatan sehari penuh untuk memberikan pemahaman mendalam sekaligus keterampilan praktis mengenai pengembangan diri serta terapi psikologi berbasis nilai Islam dan indigenous.

Peserta workshop terlihat sangat antusias dengan materi dari kedua narasumber workshop. Workshop Mawas Diri yang dibawakan oleh Dr. Nanik Prihartanti, M.Si., Psikolog memberikan insight bagi peserta tentang pemikiran dan praktik Ki Ageng Suryomentaram. Konsep Mawas Diri (refleksi diri) sebagai landasan bagi pengembangan pribadi dan transformasi diri, yang memungkinkan peserta mengenali tantangan internal dan mengembangkan strategi untuk perubahan diri yang lebih positif. Metode Mawas Diri dapat digunakan untuk belajar memahami diri sendiri, sehingga individu memiliki cara bijak mengelola rasa untuk kebahagiaan hidup. Pada sesi kedua, Dr. Bagus Riyono, M.A., Psikolog, memaparkan prinsip-prinsip Tazkiya Therapy serta menjelaskan bagaimana pendekatan ini dapat menjadi panduan bagi psikolog Muslim dalam menumbuhkan kemandirian, semangat belajar, dan sikap berserah diri kepada Allah SWT.

Konferensi tahun ini menghadirkan sejumlah pembicara utama yang memiliki reputasi internasional. Mereka adalah Dr. Bagus Riyono, M.A., Psikolog sebagai Ketua International Association of Muslim Psychologists (IAMP), Okina Fitriani, M.A., Ph.D., Psikolog dari Universiti Kebangsaan Malaysia yang juga dikenal sebagai founder dan penulis Enlightening Parenting, Prof. Dr. G. Hussein Rassool dari Charles Sturt University Australia, serta Aad Satria Permadi, M.A., Ph.D. dari Universitas Muhammadiyah Surakarta. Keempat tokoh tersebut menyampaikan materi terkait perkembangan psikologi Islam dan indigenous dari berbagai perspektif, mulai dari aspek konseptual, praktik intervensi, hingga tantangan implementasi di tingkat global. Peserta yang hadir berprofesi sebagai Dosen, Psikolog, Praktisi Psikologi serta Mahasiswa S1, S2, dan S3 baik dari pendidikan psikologi maupun non-psikologi. Para peserta berasal dari berbagai instansi seperti HIMPSI, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Universitas Sebelas Maret, Universitas Surabaya (UBAYA), Universitas Jambi, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Antasari Banjarmasin, Politeknik Kesehatan Kemenkes Surakarta, Universitas Padjadjaran, UIN Syekh Wasil Kediri, UKWMS, University of Malaysia Kelantan, Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), dan International Health Program (IHP) National Yang Ming Chiao Tung University Taiwan.

Kegiatan terakhir yaitu presentasi dari peserta Call for Paper (CFP). Tema besar “Islamic & Indigenous Psychology for Global Challenges” dalam CFP ini menjadi wadah diskusi tentang peran nilai-nilai Islam dan kearifan lokal dalam menjawab tantangan psikologi global yang semakin kompleks. Presentasi CFP kali ini dilakukan secara hybrid dan total diikuti oleh 48 peserta. Presenter CFP berasal dari berbagai negara di antaranya yaitu Indonesia, Taiwan, Malaysia, Kenya, Tanzania, Pakistan, dan Bangladesh. Sub-Tema CFP meliputi Education and Human Development, Health and Well-Being, dan Humanities and Social Harmony. Para presenter memaparkan temuan mereka, beberapa penelitian menawarkan model intervensi dan strategi preventif serta beberapa penelitian yang menyoroti praktik keagamaan sebagai sumber daya psikologis. Tidak hanya fokus pada konteks Islam, sejumlah penelitian juga menggali psikologi indigenous dalam kehidupan masyarakat. Beberapa penelitian juga menyoroti tantangan modern yang dihadapi generasi muda maupun masyarakat luas. Dengan menghadirkan perspektif lintas disiplin, acara ini memperlihatkan bagaimana psikologi Islam dan indigenous dapat berkontribusi dalam menjawab tantangan global seperti krisis kesehatan mental, disintegrasi sosial, hingga tuntutan dunia kerja modern.
Melalui penyelenggaraan konferensi ini, Fakultas Psikologi UMS menunjukkan perannya dalam mengembangkan ilmu psikologi yang berbasis nilai keislaman dan kearifan lokal sekaligus berkontribusi pada ranah global. Dengan mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara, konferensi ini diharapkan mampu memperluas jejaring kolaborasi internasional serta memperkaya wacana psikologi yang relevan dengan konteks sosial budaya masyarakat. “Konferensi ini bukan hanya sekadar forum akademik, tetapi juga upaya nyata UMS untuk menghadirkan psikologi yang berdaya guna bagi umat manusia dengan memadukan nilai spiritualitas dan kearifan lokal dalam menjawab tantangan global,” ujar salah satu panitia penyelenggara.

